Official Website

Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNS

Join Us On

Search

Senin, 15 Maret 2010

CHINA DIMANA MANA


Sepulang dari pameran komputer di Diamond Convention center saya membuka tas dan melihat kembali barang-barang yang saya beli tadi, yaitu TV Tuner for NB dan Cooling Pad. Saya coba satu per satu barang tersebut, mulai dari Cooling pad, say buka kardusnyadan langsung saja saya hidupkan laptop trus pasang Cooling Padnya dan bisa menyala (lampunya) dan memutar(kipasnya) dengan sukses. Setelah itu langsung saja membongkar kemasan dari TV Tuner. Di dalamnya terdapat 1 unit tunernya, bentuknya kecil, panjang seperti Flash Disk tapi agak besar. Lebih tepatnya seperti modem WiFi TP-Link yang putih (seperti punya HIMAKOM yang “dipinjam” dua kali :hammer:), seperti itu tapi agak tebel. Trus ada remote, kabel av in, cd software dan kertas kertas mulai dari kertas garansi, panduan dll. Langsung saja saya ikutin panduannya, mulai dari install driver dan akhirnya tancepin tu TV Tuner ke colokan USB. Dan bisa! Tappiiiiii....masih belum ada gambar dan suaranya, karena memang ada satu yang terlupa dan itu termasuk yang penting yaitu, ANTENNA !!! ya, saya lupa beli antennanya...yasudah, keinginan untuk nonton Tipi di kos tertunda sampai besok bahkan sampai saya beli antenna..
Tapi terlepas dari hal yang saya bicarakan di atas, ada satu hal yang membuat saya menjadi “berpikir” dan menulis ini. Saat saya membaca kertas panduan dari TV Tunner tersebut, di bagian paling akhir dan paling bawah terdapat tulisan yang sangat tidak asing bagi saya, yaitu “MADE IN CHINA”. Saat itu saya tidak terlalu memikirkan tulisan tersebut, Cuma dalam hati berkata “wah, Cino meneh”. Yasudah, karena Barang tersebut belum bisa digunakan saya masukkan kembali ke bungkusnya hingga rapi.. setelah itu saya melihat barang – barang yang saya keluarkan dari tas tadi berserakan, mulai dari brosur (syarat wajib dan syarat sah datang ke pameran), kardus Cooling Pad, arem-arem, pastell, plastik. Saya rapikan lagi satu per satu. Saat akan memindahkan kardus Cooling Pad ke tempat yang “layak”, tiba-tiba secara tidak disengaja saya melihat lagi tulisan yang sama dengan yang ada di TV Tunner tadi, MADE IN CHINA. Wualah... yang saya pikirkan setelah melihat tulisan tersebut kurang lebih sama dan berbeda. Samanya “Wah, Cino meneh”. Berbedanya “Nek kuling pet kyo ngene produksi cino regane mung 20ewu, neng negoro asale kono njut piro yo???durung biaya pengirimane tekan kene barang.ckckckckck “. Lalu saya berpikir lagi, “apa mungkin ki mung produksi Indonesia tapi merk Cino ya??tapi nek produk Indonesia ngopo ndadak ditulis MADE IN CHINA, ora MADE IN INDONESIA wae??”
Karena rasa keingintahuanyangtidakpenting dalam diri saya muncul, saya balik laptop saya yang masih menyala, bukan karena rusak atau apa, Cuma ingin tahu laptop saya ini MADE IN mana. Ternyata, LAGI ! CHINA !!! lalu saya lihat hape saya, dan hasilnya pasti sudah anda ketahui. Ya, China. Padahal itu salah satu merk hape dari Finnlandia. Yah, mungkin mereka mendirikan pabrik di China, trus dipegang investor dari sana dan jadi pemegang merk tersebut, atau gimanalah itu saya tak tahu persisnya. Yang saya tahu hampir semua barang elektronik di kamar kos saya adalah buatan China.
Kenapa ??? itu yang jadi pertanyaan saya. Padahal saya juga tidak berniat membeli produk China, karena saya Cinta produk Indonesia. Mungkin saya terlalu terpengaruh dengan harga murah dari produk tersebut. Tidak memandang itu produk mana, kualitasnya bagaimana. Tapi juga tidak menampik kenyataan bahwa saya sebagai mahasiswa Cuma punya uang pas-pasan, jika ingin membeli sesuatu ya yang murah sesuai keinginan dan kualitas bagus,dan itupun juga harus dengan menabung terlebih dahulu. Selain itu bisa juga saya tidak peduli atau kurang memperhatikan dalam membeli barang, khususnya barang barang kecil, seperti alat tulis. Tidak memperhatikan barang tersebut MADE IN mana, yang penting bisa buat menulis dan sekali lagi “MURAH”.
Saya jadi teringat, saya pernah melihat sebuah video penelitian seorang professor dari Amerika yang diputar oleh ayah saya di laptop beliau. Video tersebut bercerita tentang bagaimana orang luar negeri khususnya Amerika jika membeli barang-barang impor. Mereka selalu bertanya, “produk ini dikerjakan dimana?bagaimana pekerja disana?apakah mendapatkan kesejahteraan (gaji) yang cukup?”. Mereka menanyakan hal tersebut juga bukan Cuma ingin tahu atau hanya iseng, tapi untuk mengetahui kualitas barang tersebut. Dengan begitu mereka akan lebih berhati-hati dalam membeli barang khususnya barang impor. Karena dalam penelitian tersebut meneliti tentang produk-produk besar Amerika yang produksinya dikerjakan di Indonesia tetapi gaji yang diperoleh para pekerja yang membantu proses produksi tersebut sangatlah jauh dibilang layak, sedangkan harga dari produk tersebut bisa 100X lipat dari gaji seorang pekerja.
Mungkin itu bisa menjadi pelajaran kita dalam memilih barang, terutama barang-barang penting. Minimal kita tahu lah barang itu produksi mana dengan begitu bisa menjadi bahan pertimbangan kita dalam membeli barang. Karena tidak mungkin kita menanyakan seperti yang dilakukan oleh orang Amerika, bisa-bisa bukannnya mendapat barang yang kita inginkan malah diusir penjualnya lagi karena banyak tanya. :D

Oleh: Farid Aji Prakosa (Staff Diskusi dan Penalaran HIMAKOM FISIP UNS 2009-2010)

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar tapi yang sopan ya :))